Tintin & Perjudian Jutawan Merseyside

Koeman di bawah tekanan | PHOTO: The Times
332

“Uang tidak membuat anda bisa mencetak gol,” Kata Arjen Robben kepada Kickers jelang Bayern Muenchen lawan Paris Saint-Germain (PSG) akhir bulan lalu. Perkataan Robben itu kemudian dibalas dengan tiga gol tanpa balas oleh anak-anak asuh Unai Emery di Parc des Princes. Tapi bukan berarti perkataan Robben salah. Buktinya terjadi 814 kilometer dari Paris, Mersyside, Inggris.

Musim ini, Mersyside kembali kedatangan seorang jutawan dalam bentuk Everton. ‘Mersey Millionaires‘ adalah julukan mereka di era 60-an, dan hal itu kembali musim ini. Seorang pengusaha Inggris keturunan Iran, Farhad Moshiri membeli 49.9% saham klub, dan memberi suntikan dana kepada klub.

Uang tersebut kemudian digunakan oleh Ronald Koeman untuk mendatangkan nama-nama terkenal. Mulai dari Wayne Rooney, Michael Keane, Jordan Pickford, hingga Gylfi Sigurdsson. Lebih dari 150 juta Euro dihabiskan nahkoda berjuluk Tintin itu di musim panas. Ia diminta untuk membawa Everton ke UEFA Champions League musim depan. Namun, kenyataannya, mereka kini sedang ada di zona degradasi.

Sigurdsson, dan kawan-kawan ditekuk 5-2 oleh Arsenal akhir pekan lalu, dan masa depan Koeman di Mersyside kian kelam. Dengan kekalahan tersebut, Koeman disebut akan segera ditendang dari Goodison Park. Pasalnya, The Toffees kini tak pernah merasakan kemenangan di lima laga terakhir mereka, dan sedang menjadi juru kunci di grup UEFA Europa League.

Buruknya perfoma The Toffees membuat para suporter menginginkan Tintin untuk pergi. Mereka bahkan berani memanggil Koeman sebagai badut ketika mereka menjamu Arsenal. Express menyebut Sam Allardyce, serta Rafa Benitez sebagai pengganti Koeman. Sementara The Sack Race unggulkan David Unsworth, dan Moyes jadi nahkoda Everton selanjutnya.

Masih Mendapat Kepercayaan
http://3dwnh01icn0h133s00sokwo1-wpengine.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/10/000_TM652.jpg
Keane (L) tetap percaya Koeman | PHOTO: Citizen TV

Meski rumor kepergian Koeman terus berhembus, dirinya ternyata masih dipercaya oleh tim balik layar Everton. Michael Keane bahkan mendukung Koeman untuk tetap bertahan, dan melihat kekalahan dari Arsenal sebagai kesalahan para pemain.

“Anda mungkin tidak melihatnya saat ini. Tapi ini adalah hari yang sulit. Semua merupakan kesalahan kami, Ia [Koeman] telah melakukan segalanya yang ia bisa,” Kata Keane usai pertandingan. “Kami percaya penuh pada dirinya. Kami telah membuatnya kecewa, dan sedang berusaha sepenuh hati untuk mengatasinya,” Lanjutnya.

Awal bulan ini, Farhad Moshiri mengaku bahwa dirinya masih percaya kepada Koeman. Meski Si Tintin terlihat lebih menyerupai Kapten Haddock, Si Pemabuk, Moshiri tahu bahwa masih terlalu dini untuk mendepak Ronald Koeman. “Untuk saat ini, saya masih percaya kepadanya. Para suporter memang berhak untuk mendapat lebih baik, tapi masih ini masih terlalu awal,” Kata Moshiri kepada Daily Mail.

Everton sudah menelan enam kekalahan dari 10 pertandingan sejak Moshiri mengungkapkan hal itu. Koeman juga mengakui bahwa dirinya bisa saja dipecat, meski percaya ia adalah pilihan terbaik untuk Everton saat ini. “Tentu saja ada kemungkinan itu. Tim tidak tampil dengan baik, dan pasti manajer jadi perhatian di saat seperti itu, tapi saya mempercayakan semuanya kepada direksi,” Kata Koeman usai kalah dari Olympique Lyon tengah pekan lalu.

Belajar dari Klub Lain
https://i.pinimg.com/originals/17/66/a9/1766a991f1185469bc0327535f7e1006.jpg
Ambisi Fernandes belum tercapai ©2014 Kieran McManus / BPI all rights reserved / Pinterest

Sembilan pertandingan, dan hanya mencatatkan delapan poin. Masih ada 14 pertandingan sebelum boxing day. Mungkin memang terlalu dini untuk mendepak Koeman. Tapi, suka atau tidak, sebenarnya Koeman masih bisa disebut pilihan terbaik Everton.

Kedatangan pemilik baru, dan kucuran dana besar, tentu membuat suporter memiliki harapan yang tinggi. Tapi mengharapkan sesuatu yang instan merupakan sebuah kesalahan besar. Belajar dari beberapa klub lain, para direksi The Toffees harus berani memilih langkah kontroversial.

Queens Park Rangers telah berganti nahkoda sembilan kali sejak Tony Fernandes datang. Pertama mereka bisa mendatangkan pemain sekalas Julio Cesar, tapi harapan mantan penjaga gawang Inter Milan itu untuk jadi juara liga bersama QPR gagal terpenuhi. Bahkan kini klub asal London itu sudah tidak mewarnai Premier League.

Norwich City yang pada 2013 mengejutkan publik sepak bola dengan pergerakan transfer mereka. Wolfswinkel, Leroy Fer, Gary Hooper, hingga Nathan Redmond tak bisa membantu tim berlogo burung kenari itu mengangkat status mereka. Norwich kini juga sudah keluar dari Premier League. Enam nama telah ditunjuk menjadi nahkoda The Cannaries sejak degradasi tapi tak satupun bisa membuat mereka menjadi penghuni tetap Premier League.

http://i1.mirror.co.uk/incoming/article9476681.ece/ALTERNATES/s615b/Birmingham-fans-with-a-message-for-former-manager-Gary-Rowett.jpg
Meski sukses, Rowett dicopot | PHOTO: Mirror

Hal serupa juga terjadi pada Birmingham City yang telah menemukan nahkoda terbaik mereka, Gary Rowett, dan kemudian harus tertatih-tatih karena direksi tidak mempercayainya. Birmingham menunjuk Zola, Redknapp, hingga kini Steve Cotterill, dan kembali jadi salah satu calon penghuni zona degradasi EFL Championship.

Mengganti pemimpin ruang ganti pada tim yang baru terbentuk adalah sebuah kesalahan. Lihat saja bagaimana AC Milan tetap mempercayakan Vincenzo Montella meski hasil yang Ia raih di awal musim tergolong minor. Kini, mereka perlahan bangkit meski belum bisa meraih kemenangan dari tim ‘selevel’-nya.

Positif di Tengah Keterpurukan

Lagipula Koeman juga telah memberikan sesuatu yang positif kepada Everton meski hasil pertandingan belum bisa berpihak kepadanya. Ia berani mengandalkan pemain-pemain muda Britania layaknya Tom Davies, Dominic Calvert-Lewin, Ademola Lookman,dan Mason Holgate di timnya.

Pembelian Jordan Pickford, dan Michael Keane juga membuktikan kepeduliannya kepada pemain domestik. Tak seperti klub-klub lainnya yang berusaha memenuhi skuat dengan pemain asing. Membangun tim mengandalkan pemain-pemain muda adalah hal yang sulit.

Tapi jika diberi waktu, mereka bisa menjadi sebuah klub yang menjanjikan. Sama seperti Arsenal di masa-masa Young Guns, Cesc Fabregas, Ramsey, dan lain-lain. Sama seperti Arsene Wenger saat itu, Koeman gabungkan pemain muda, dengan mereka yang berpengalaman. Tak seperti Paul Lambert di Aston Villa yang sepenuhnya yakin ke pemain-pemain muda, dan akhirnya terdegradasi.

Sekarang Everton hanya membutuhkan kesabaran. Para pemain sudah mempercayai pelatih mereka, potensi mereka juga didukung dengan ambisi. Hanya ada masa depan cerah menunggu jutawan Mersyside. Percayalah pada Tintin, karena akhirnya dia pasti menuntaskan kasus ini.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.