Pengakuan Dunia Sepak Bola Terhadap India

Bukan kemenangan, tapi pengalaman, dan pengakuan | PHOTO: Twitter / @FIFAcom
205

Jumat, 6 Oktober 2017 menjadi hari bersejarah bagi Asosiasi Sepak Bola Seluruh India (AIFF) setelah peluit tanda laga pembuka Piala Dunia U-17 antara Kolombia melawan Ghana dibunyikan. Disorot lebih dari 24 ribu penonton di Jawaharlal Nehru Stadium, wasit Clement Turpin meniupkan peluitnya.

Laga itu dimenangkan oleh Ghana lewat gol tunggal Ibrahim Sadiq sebelum tuan rumah menutup hari pertama dengan kekalahan telak 0-4 melawan Amerika Serikat. Menang, seri, kalah, itu bukan masalah untuk tim yang baru mulai menginjakkan kakinya ke dunia kulit bundar.

“Anda harus melihat ini sebagai peluang, dan bukan tekanan. Dengan begitu kita bisa memberikan sesuatu bagi negara ini. Para pemain paham apa yang dipertaruhkan di sini [Piala Dunia U-17], mereka tahu bahwa lawannya adalah terbaik dunia. Jadi mereka harus bisa mengalahkan pikiran diri sendiri dulu sebelum menumbangkan tim lawan,” Jelas Pelatih Mental India Swaroop Savanur kepada Mumbai Mirror.

India tergabung dengan Amerika Serikat, Ghana, dan Kolombia. Mereka bukan pasrah menerima kondisi bahwa ketiga lawannya merupakan negara yang pernah lolos ke semi-final kompetisi ini. Bahkan Ghana dua kali juara di 1991, dan 1995. Tapi anak-anak asuh Luis Norton de Matos lebih sadar diri bahwa pengalaman adalah tujuan utama mereka.

Sudipta Biswas dari Citizen India yakin bahwa turnamen Piala Dunia U-17 ini akan menjadi modal berharga bagi negaranya berbicara banyak di dunia sepak bola. “Bertanding lawan negara-negara sepak bola, melihat mereka bermain, ini sangatlah berharga bagi bintang masa depan India, dan juga suporter,” Tulisnya.

“Ajang Piala Dunia U-17 ini juga bisa menjadi jawaban atas jembatan yang hilang antara sepak bola India dan dunia,” Lanjut Biswas dalam tulisannya.

Barefoot Dreams

Penyanyi India, Manna Dey pernah menciptakan lagu berjudul ‘Sab Khelar Sera Tumi Football‘ atau Sepak Bola adalah yang terbaik dari semua olahraga. Lagu itu dipopulerkan oleh sosok Almarhum yang menghembuskan nafas terakhirnya empat tahun lalu, di negara kriket.

India bahkan dikabarkan pernah memiliki era keemasan dalam sepak bola pada periode 1950 sampai 1960-an. Prestasi terbaiknya adalah saat Inder Singh dan kawan-kawan berhasil jadi runner-up AFC Cup di 1964. Namun, mereka kemudian terjatuh. Mereka memaksakan diri untuk bermain dengan telanjang kaki, ‘nyeker‘ seperti saat ikut Olimpiade di Perancis.

Barefoot Dreams‘ mungkin digunakan untuk judul sebuah film yang menggambarkan sepak bola Timor Leste. Tapi jauh sebelum negara itu berpisah dengan Indonesia, India lebih dulu bermimpi untuk bermain ‘nyeker‘ di lapangan.

Liga Tes Pasar
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2014/10/05/1412515339061_wps_74_Indian_director_of_Relian.jpg
Bintang dunia jadi atraksi utama ISL | PHOTO: Daily Mail

Perlahan mereka bangkit, mengikuti peraturan yang diadakan FIFA. Kemudian liga sepak bola profesional India, I-League dibentuk pada 2007. Dempo SC yang jadi juara inagural I-League, sekaligus klub tersukses sejauh ini selalu terbentur di fase 16 besar turnamen antar klub. Sementara East Bengal hanya berhasil jadi empat besar AFC Cup 2012/13. Bengaluru berhasil lolos ke final AFC Cup 2015/16, tapi mereka kemudian ditekuk oleh klub Irak, Al-Quwa Al-Jawiya dengan skor tipis 1-0 di partai puncak.

Seiring dengan meningkatnya performa klub India di turnamen antar klub, liga baru muncul. Tak menggunakan sistem promosi-degradasi, dan berusaha memboyong nama besar ke Negeri Barata, Indian Super League. Satu atau dua tahun lalu, Indian Super League (ISL) sempat terkena masalah dualisme liga. Pasalnya, setiap negara hanya diizinkan untuk memiliki satu divisi tertinggi.

Tapi akhirnya hal itu tidak jadi masalah. I-League tetap dianggap sebagai liga utama India, sementara ISL ada di posisinya sendiri. Menarik minat bukan dari tiket kompetisi antar klub, tapi stabilitas ekonomi, kemasan liga, dan nama besar yang pada akhirnya mendatangkan uang untuk klub. Bahkan kini Bengaluru sudah membelot dari I-League, dan main di ISL!

Menurut laporan Guardian, pekan perdana ISL disaksikan oleh 170.600.000 penonton melalui televisi. Economic Times melaporkan, pekan pertama di musim 2015 disaksikan 429.000.000 orang di India, 2.5 kali lipat dari 2014. Sementara GOAL mengatakan bahwa ISL 2016 disaksikan hampir 1/6 dari penduduk India yang berjumlah 1,3 miliar jiawa. Dengan partai final antara Atletico de Kolkata, dan Kerala Blasters menyedot 41 juta pasang mata.

Bahkan ISL 2017 yang baru akan mulai bulan depan sudah mendapat tempat di televisi Inggris, BritAsia. Tanpa menyebutkan angka, BritAsia kabarnya membeli hak siar ISL untuk lebih dari satu tahun, dan kita tahu kegilaan Inggris dan uang alokasi penyiaran.

Noda di Balik Euphoria
http://www.hindustantimes.com/rf/image_size_960x540/HT/p2/2017/10/07/Pictures/_c4f079c8-ab41-11e7-8fa9-3a95f17ae4d1.jpg
Sampah Berserakan usai laga Piala Dunia U-17 | PHOTO: Hindustan Times

Piala Dunia adalah pesta bagi seluruh pecinta sepak bola. Tak memandang kategori umur berapa yang sedang menggelar ajang tersebut. Setidaknya begitulah pandang naif kita sebagai penikmat kulit bundar. Tapi di negara yang masih lebih menggilai kriket dibanding sepak bola, tiket untuk laga Piala Dunia sulit terjual.

Kapada Agence France-Presse (AFP), seorang panitia penyelenggara mengatakan bahwa 27.000 tiket disebar secara cuma-cuma di area Delhi untuk memenuhi Jawaharlal Nehru Stadium yang berkapasitas 56.000 orang.

“Akan memalukan jika stadion terlihat kosong. Jadi kami membagikannya secara cuma-cuma di sekitar Delhi,” Kata Panpela yang minta namanya dirahasiakan itu. Padahal menurut Indian Express, beberapa stadion telah berusaha dikurangi kapasitasnya. Bukan demi kepentingan kamera, tapi regulasi keamanan FIFA.

Kondisi kemudian diperburuk oleh laporan Hindustan Times yang memotret kumpulan sampah di sekitar stadion usai pertandingan. Hal ini sama sekali tidak membantu India. Mereka sebelumnya dikritik karena berpolusi udara cukup tinggi, dan membahayakan para talenta muda.

Sepak Bola Milik Bersama
https://pbs.twimg.com/media/DH1SrDkV0AATENm.jpg
Sarkar, bukti masih ada harapan di dunia | PHOTO: Twitter / @IndianFootball

Tapi pada akhirnya sepak bola adalah cerita tentang mereka yang terlibat di dalamnya. Meski memiliki banyak kekurangan, dan masih berusaha ‘belajar’ mengenal dunia sepak bola, turnamen ini adalah pengakuan dunia kepada India. Pengakuan di dunia sepak bola.

Lewat Piala Dunia U-17, berbagai cerita dari daratan Asia Selatan itu bermunculan. Mulai dari tahap seleksi yang melibatkan 14.000 pemain, dan hanya menyisakan 21 nama. Hingga kisah pemilik nomor punggung 10 mereka yang hidup dalam kemiskinan, hingga ditemukan Ashok Mondal, salah satu pelatih India.

“Keluarganya sangat miskin. Mereka tak bisa mendanai seragam ataupun sepatu baginya.”

“Tapi saya tahu dia adalah pemain bertalenta. Jadi kita mulai latihan-latihan dari dasar, saya ingin dia benar-benar dapat bermain,” Aku Mondal kepada The Field.

Lewat sepak bola, India mulai membuka mata dunia. Akan harapan. Akan talenta, dan perjuangan. Lewat sepak bola juga dunia mulai benar-benar membuka mata, dan merangkul mereka.

Piala Dunia U-17 kali mungkin hanyalah uji coba bagi tuan rumah. Seperti kata Luis de Matos, “Saya ini pelatih, bukan Harry Potter!”. India mungkin tak bisa berbuat banyak di kesempatan pertama mereka, tapi jelas ajang ini adalah jembatan mereka untuk bisa mulai sejajar dengan Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis, dan lainnya.

Pertanyaannya, sanggupkah kita membuka mata dunia di 2034?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.