Goran Pandev & Bentuk Kesetiannya Pada Makedonia

Musim 2009/10 jadi momen penting bagi Pandev | PHOTO: Zimbio
309

Waktu terus berjalan, dan mereka yang sedang aktif di lapangan mulai mencari alternatif. Eden Hazard, Yohan Cabaye, Moussa Sow, dan Demba Ba bersatu membentuk San Diego 1904 FC tiga bulan lalu. Didier Drogba kini bermain untuk Phoenix Rising, klub miliknya sendiri.

Mereka mengikuti tren yang dibangun oleh Paolo Maldini, mantan bek AC Milan yang kini menjadi pemilik Miami FC di Amerika Serikat. Ketika David Beckham masih sibuk mencari stadion, Maldini sudah menunjuk Alessandro Nesta sejak dua tahun lalu untuk tangani timnya di North America Soccer League (NASL).

Maldini, Drogba, Hazard, saat ini telah menjadi seorang pemilik klub sepak bola. Tapi tidak ada satupun dari tiga nama itu yang menaruh klubnya di liga kompetitif. Bukan merendahkan, karena kita sadar sengketa di Amerika Serikat masih terus berlangsung. NASL, Major League Soccer (MLS), dan Asosiasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) memiliki masalah terkait pengakuan liga utama.

Tapi fakta bahwa San Diego 1904 FC, Miami FC, dan Phoenix Rising bermain di sebuah liga yang tidak memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan membuat pandangan negatif muncul. Tanpa degradasi ataupun promosi. Tidak ikut serta di kompetisi kontinental. Para pemain ini seperti hanya mencari jalan termudah untuk menggunakan uang pensiun mereka.

Saat ini tidak ada pemain dari NASL ataupun United Soccer League (USL) yang membela tim nasional Amerika Serikat. Terkecuali mereka yang merupakan tim akademi klub MLS. Hal ini sangat disayangkan, karena nama-nama di atas adalah calon, dan seorang legenda sepak bola. Namun mereka tidak memberikan kontribusi lebih untuk masa depan selain uang.

Ironi ini membawa kita teringat akan Goran Pandev. Sesama pesepakbola yang masih aktif bermain, dan juga telah memiliki sebuah klub. Perbedaannya, klub milik Pandev memperlihatkan prestasi, dan kegunaannya bagi negara. Mungkin karena Pandev membentuk klub di Makedonia, negaranya. Sementara Maldini, dan lainnya mendirikan tim di tanah asing.

Perkenalkan, Akademija Pandev!
https://i2.wp.com/kanalvis.com/wp-content/uploads/2016/05/sampioni.jpg?resize=960%2C540
Akademija Pandev saat berhasil promosi ke divisi dua | PHOTO: Kanalvis /i2

Fudbalska Akademija Pandev, Фудбалска Академија Пандев, FC Academy Pandev. Bebas bagaimana kalian menyebutnya. Satu hal yang pasti, klub ini dibangun Goran Pandev sebagai sebuah akademi untuk anak-anak muda Makedonia.

Berawal dari keberhasilan Pandev meraih treble winner bersama Inter Milan di 2010, Ia ingin melihat generasi penerus merasakan hal yang sama. Pandev ingin membantu anak-anak muda Makedonia merealisasikan mimpi mereka. Sama seperti apa yang Ia rasakan saat itu, juara UEFA Champions League!

Pandev membuka akademinya dengan 70 anak-anak di sekitaran Strumica. Tepat di tanah kelahirannya, Goran Pandev dipandang sebagai seorang pahlawan. Dalam kalimat Valerio Arriciello dari Il Secolo XIX, “Dia memberi motivasi lebih kepada anak-anak Makedonia.”

Tiga tahun setelah berdiri, tepatnya pada 2013, Asosiasi Sepak Bola Makedonia meminta setiap akademi untuk juga memiliki tim senior. Dari situ, perjalanan akademi Pandev dimulai. Tim senior mereka mengawali karir dari divisi empat. Para pemain muda yang awalnya hanya 70 orang, bertambah menjadi 300. Mereka mengisi empat kelompok umur, U6-U12, U13, U14, U15-U18. Sementara tim senior diisi para pemain profesional.

https://www.instagram.com/p/BaoBm1qD9kL/?taken-by=gorangancev
Lama di Indonesia, Gancev mudik | PHOTO: Instagram / @gorangancev

Goran Gancev, bek Makedonia yang pernah menghabiskan lima tahun di Indonesia termasuk pemain salah satu Akademija Pandev saat ini. Mantan pemain PSMS, dan Semen Padang itu mengaku senang bisa pulang, dan membela klub seperti Akademija Pandev.

“Klub ini memiliki ambisi tinggi, semoga saja kita bisa masuk UEFA Europa League, atau kualifikasi Champions League,” Katanya seperti dilansir oleh bola.net. Agen dari Gancev, Gabriel Budi Liminto juga mengaku bahwa Pandev sendiri yang meminta kliennya untuk bergabung. “Dia direkomendasikan langsung oleh pemilik klub,” Katanya ke bola.com.

Selain Gancev, ada pula mantan pemain Lokomotiv Plovdiv, Zoran Baldovaliev, dan adik Goran, Sasko Pandev. Sasko, dan Zoran membantu Akademija Pandev juara divisi dua musim lalu. Sementara Gancev baru bergabung musim ini.

Dihadang Walikota

Meski Pandev adalah pencetak gol terbanyak dalam sejarah tim nasional Makedonia, bukan berarti dia mendapat perlakuan khusus. Akademija Pandev bahkan sempat diusir dari Strumica. Menurut laporan Damien dari Footballski, Akademija Pandev pernah diminta walikota Strumica untuk berlatih di Turnovo.

Alasannya, Ia ingin setiap kota hanya memiliki satu klub. Sementara pusat kota Strumica sudah mempunyai FK Belacica. Mantan klub Pandev yang sudah 11 tahun absen dari divisi tertinggi Makedonia. Ditambah FK Tiverija yang juga menggunakan Stadion Mladost, kandang Belacica, dan Akademija.

https://footballski.fr/wp-content/uploads/2017/09/DSCF3650.jpg
Mladost, kandang tiga klub | PHOTO: Footballski / Damien F

Akademija, klub termuda di sana sempat harus mengungsi. Akan tetapi hal ini kemudian membantu mereka mendapatkan basis suporter di daerah Turnovo –12 kilometer dari Strumica-. Goran Pandev sempat ingin menggunakan nama Belacica untuk klubnya. Sayangnya hal itu terus ditolak oleh walikota, karena FK Belacica memiliki sejarah panjang di sepak bola Makedonia.

Pandev bahkan sempat berpikir untuk merger. Tapi, permintaan itu juga ditolak. Tidak mendapat restu bukanlah halangan buat Goran Pandev. Akademija Pandev berhasil menarik minat talenta muda Belacica, dan tanpa disadari mereka kini sudah ada di divisi tertinggi sepak bola Makedonia. Baru juga tujuh tahun berdiri!

Koneksi Italia

Tanpa dukungan pemerintah, Pandev masih terus bergerak membangun klubnya. Ia menggunakan koneksinya di Italia untuk membantu Akademija Pandev. Sejauh ini, Pandev sudah menghabiskan 15 tahun di Italia. Mulai dari Ancona, sampai Lazio semua pernah Ia bela.

Berbekal kedekatannya dengan beberapa mantan klub, Akademija Pandev ‘dibawa’ ke Italia. Tahun lalu, Mereka ikut dalam Viareggio Cup tahun lalu, melawan Spezia, Inter, dan Apia Leichhardt. Sementara musim ini, Pandev berhasil menggandeng Givova, apparel Chievo, Carpi, dan Avellino untuk kostum timnya.

http://sportmedia.mk/files/styles/statija/public/article/2015/08/04/50735-naslednikot-na-goran-pandev-pristigna-vo-inter-foto.jpg?itok=cXN2ABnE
Atanasov di Inter Primavera | PHOTO: Sportmedia

Berkat peran pemilik klub, Akademija Pandev juga seakan menjadi klub satelit Inter Milan. Nama Jani Atanasov, dan Mihail Manevski adalah dua pemain yang menarik minat Inter Milan. Atanasov sudah diberikan tempat di Inter Milan sejak 2015, sementara Manevski menyusul setahun kemudian. Tapi karena kedunya masih terlalu muda, dan belum diizinkan menetap di Italia.

Pandev sendiri mengkonfirmasi kepergian Atanasov ke Inter pada musim panas dua tahun lalu. “Mulai tahun depan, Atanasov akan berstatus sebagai pemain Inter Milan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa untuk klub kami. Saya sangat senang dia ke Italia,” Kata Pandev seperti dilansir Macedonian Football.

“Terlebih bersama Inter Milan salah satu klub terbaik dunia. Dia akan mendapat banyak masukan, opini yang datang akan berbeda-beda. Saya rasa hal itu akan membantu dirinya,” Lanjutnya. Gilanya, kekuatan Pandev di Italia tidak hanya sampai di situ.

Ia berhasil menarik minat mantan juara primavera, Giulio Grifoni. Mantan sayap Fiorentina tersebut mengatakan bahwa dirinya percaya akan proyek yang sedang dibangun Pandev. “Saya sudah mengikuti Pandev sejak lama. Ketika saya dilepas, Pandev langsung datang menawarkan tempat di Akademija,” Kata Grifoni.

“Awalnya saya skeptis dengan penawarannya. Tapi Ia berhasil meyakinkan saya dengan proyek penting yang tengah dibangun,” Lanjutnya ke La Nazione. Pindah di pertengahan Agustus tahun ini, Grifone jadi pemain Italia pertama yang pernah membela Akademija Pandev.

Bukan Bisnis, Tapi Kesetiaan

Pandev membangun klubnya murni karena terinspirasi oleh pengalamannya sendiri. Kemudian dia ingin menjadi sosok yang mewujudkan mimpi anak-anak muda Makedonia lewat sepak bola. Misi seperti ini sebenarnya bukan hanya dilakukan Pandev, tapi juga Gheorghe Hagi dengan Viitorul Constanta.

Tapi Pandev melakukannya saat masih aktif bermain. Tanpa dukungan pemerintah setempat, dan bagi negara yang sempat menghalanginya bermain sepak bola. Ya, Goran Pandev, pemain Makedonia paling tenar sempat diminta absen dari tim nasional!

Tahun lalu, Pandev kedatangan dua tamu di Genoa. Mereka adalah Serafim Dimovski, anggota asosiasi, dan mantan pelatih tim nasional, Mirsad Jonuz. Kedatangan keduanya disambut baik oleh Pandev, tetapi ketika mengetahui permintaan mereka, mantan penyerang Lazio itu membengkang.

http://cdn.ilbianconero.com/images/2017-01/pandev.genoa.indica.lazio.2016.17.1080x648.jpg
Pandev masih aktif main | PHOTO: Il BiancoNero

“Saya tidak memiliki masalah mereka datang berkunjung. Tapi topik yang dibicarakan sangatlah mengejutkan. Keduanya meminta saya untuk tidak tampil di uji coba melawan Slovenia, dan Bulgaria. Mendengarnya seperti sebuah bencana buat saya, saat orang-orang yang peduli pada sepak bola meminta hal seperti itu,” Aku Goran Pandev kepada Derbi.

Pandev menghiraukan permintaan keduanya, dan tetap tampil melawan Slovenia, dan Bulgaria. Meskipun pada akhirnya kalah (1-0:0-2). Sementara Serafim Dimovski ditendang dari jabatannya di asosiasi sepak bola Makedonia. Kini di usianya yang ke-34, Pandev masih membela tim nasional, dan aktif menyalurkan talenta muda bagi negaranya.

Terakhir, lima pemain Akademija dipanggil berbagai kelompok umur Makedonia. Marko Alcevski menjaga gawang Makedonia U17. Hristijan Delevski jadi penghubung bek, dan gelandang di U19. David Atanaskoski, Konstantin Cheshmedjiev jadi bek tim U21. Sementara Ljupco Doriev (22th) bermain dengan pemilik klub di tim senior.

Mereka menembus tim nasional tanpa fasilitas mumpuni seperti pusat kebugaran yang baru akan selesai dibangun Maret tahun depan. Semua dilakukan Pandev saat masih aktif bermain. Kira-kira siapa yang bisa ikuti jejaknya?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.