Malcom: Pemuda Pendahulu Neymar

Malcom vs Neymar | PHOTO: France TV Sport
85

“Kompetisi Ligue 1 tidak bisa kita anggap remeh. Banyak pemain kelas dunia lahir dari sini. Dengan tayangnya Ligue 1, siapa tahu ada anak Indonesia yang ingin menimbah ilmu di Perancis,” Tutur Agung Rulianto yang saat itu menjabat sebagai Manajer Berita dan Olahraga di B Channel kepada KOMPAS. Para penikmat sepak bola di Indonesia sempat disajikan divisi tertinggi Perancis dengan gratis sebelum Neymar datang ke PSG. Namun usai musim 2013/14, B Channel berubah menjadi RTV, dan Ligue 1 hilang dari jangkauan antena kita.

Sejak resmi mengambil hak siar Ligue 1, Agung Rulianto mengkonfirmasi bahwa PSG adalah alasan utama B Channel berani menayangkan Liga Perancis. “Kekuatan uang PSG menambah daya tarik Ligue 1. Kami yakin liga ini akan berkembang, dan menarik minat banyak penonton,” Katanya. Lima tahun kemudian, ucapan dari Agung jadi kenyataan. Kegilaan PSG di bursa transfer musim panas menarik perhatian. Bukan hanya Indonesia, tapi juga dunia.

Mereka menjadikan Neymar sebagai pemain termahal dunia, sudah menyediakan tempat untuk Kylian Mbappe di posisi kedua. Tapi sebenarnya, sebelum Neymar mendarat di Parc des Princes, kompatriotnya sudah lebih dulu mencuri perhatian dunia. Malcom Filipe Silva de Oliveira namanya. Penyerang muda Brazil yang datang dua musim sebelum Neymar.

Didatangkan saat masih berusia 18 tahun, Malcom hanya tampil sebanyak 12 kali dalam setengah musim. Hal ini dikarenakan perbedaan jadwal liga antara kompetisi di Brazil dengan Perancis. Nama Malcom mencuat ke permukaan bersama Corinthians di Brazil. Hanya satu tahun di sana, Malcom sudah menjadi pilihan utama, dan bintang lapangan Timao.

Secara statistik,Ia memang hanya memberikan tujuh gol dari 54 pertandingan. Bagi seorang penyerang itu bisa disebut catatan buruk. Rata-rata hanya mencetak satu gol setiap lima laga meski dia berada di lapangan 3.704 menit. Tapi bukan gol yang menjadi daya tarik utama pesepakbola generasi ketiga satu ini. Dirinya sering disebut sebagai seorang penyerang, namun dirinya lebih berbahaya sebagai pemain sayap.

Penerus Neymar
http://www.zupimages.net/up/17/27/n769.jpg
PHOTO: Girondins 33

Squawka sempat menyebut Malcom sebagai penerus Neymar. “The Next Neymar,” Tulis Matt Smith tentang Malcom, bersama tujuh pemain muda Brazil lainnya. Tradisi memberi label kepada pemain muda sebagai penerus pendahulu mereka sebenarnya selalu jadi beban. Gio Dos Santos bukan Ronaldinho, Bruma beda dengan Cristiano Ronaldo, dan seterusnya.

Sialnya, kegagalan pemain muda untuk menyerupai pendahulu mereka tak menghentikan pemberian label tersebut. Malcom disebut sebagai penerus Neymar. Begitu juga Gabriel Jesus, Barbosa, dan Victor Andrade. Ia bahkan sudah berulang kali diingatkan untuk tidak ke Bordeuax. Banyak yang merasa Malcom layak main untuk mereka yang katanya ‘lebih besar’ dari mantan tim Zinedine Zidane.

“Sosial media saya banyak pesan yang merasa Bordeaux adalah klub kecil. Berharap saya tidak pergi ke sana, karena terlalu banyak risiko,” Aku Malcom kepada ESPN. Namun nyatanya hal itu tidak membuat Ia ragu untuk pindah. Pada akhirnya bersama Bordeaux, dia mencuri perhatian banyak klub. Duo klub Manchester, Chelsea, Liverpool, semua menginginkan Malcom.

Tapi sama seperti keputusannya saat memilih Bordeaux, Ia tidak meninggalkan Kota Wine untuk tim yang ‘lebih besar’. Memang, saat itu Bordeaux sedang dalam tekanan. Mereka masih berusaha membangun kembali tim setelah ditinggal oleh Laurent Blanc. Pelatih yang memberikan empat piala kepada Bordeaux, termasuk satu gelar liga selama tiga tahun melatih.

Dengan dana terbatas, Bordeaux yang ditangani Willy Sagnol berhasil datangkan Malcom menggunakan uang di bawah lima juta Euro. Ia perlahan jadi pemain kunci Bordeuax bersama Francois Kamano, dan juga Gaetan Lambode. Trio ‘MaLaKa‘ kemudian mengangkat posisi Bordeaux dari papan tengah menjadi pesaing untuk zona Eropa. Mereka lolos ke kualifikasi setelah mengakhiri musim di posisi enam, tapi kalah dari Videoton di fase itu.

Andai Malcom adalah penerus Neymar, dirinya sudah pasti berada di klub lain saat ini. Alih-alih pergi, tiga hari lalu dirinya memperpanjang kontrak hingga 2021, dan diberi klausul pelepasan seharga 40 juta Euro.

Panutan Neymar
http://a.espncdn.com/combiner/i/?img=/media/motion/ESPNi/2017/0927/int_170927_PSG_3-0_Bayern_Cavani_Neymar_star/int_170927_PSG_3-0_Bayern_Cavani_Neymar_star.jpg&w=738&site=espnfc
PHOTO: ESPN FC

Gaya main Neymar, dan Malcom memang cendrung sama. Ahli dalam eksekusi bola mati, memiliki kaki lincah, pintar mengelabui lawan, dan berbahaya di depan gawang. Jika kita melihat hal ini, kita mengerti kenapa Malcom disebut penerus Neymar. Tapi jika ada yang kita pelajari selama ini, sikap di luar lapangan juga berpengaruh. Betul Adriano?

Perbedaan mendasar antara Neymar, dan Malcom adalah ego. Dari perselisihan Neymar, dan Cavani, terlihat bagaimana penyerang eksentrik itu ingin menjadi pusat permainan. Ingin pindah dari sisi ke tengah, layaknya Messi.

Hal ini tidak terjadi pada Malcom. Dia mungkin memiliki gaya main yang sama dengan Neymar, tapi kemampuan terbaiknya ada saat dirinya memeluk garis lapangan. Malcom tidak mencari perhatian. Dia hanya ada di tempat, saat waktu yang tepat. Oportunis, tapi bukan egois!

Sikap membuminya semakin terlihat ketika Ia masih bermain bersama keluarganya di lapangan dia berlatih saat kecil. Kepada Esporte Fantastico, Malcom mengaku tidak bisa melupakan tempat itu karena di sana keringatnya sebelum jadi profesional bercucuran. “Di sini saya mencetak berlatih, mencetak gol, tanpa selebrasi,” Katanya.

Kini, setelah perselisihan dengan Cavani, Neymar datang ke PSG bukan untuk menarik semua lampu sorot ke arahnya, melainkan sebaliknya. Dia berusaha melepas ego, jadi lebih seperti Malcom. “Media menulis sesuatu yang tidak mereka ketahui, dan berusaha merusak ruang ganti,” Kata Neymar.

Namun, ESPN FC melaporkan bahwa Unai Emery mengkonfirmasi bahwa memang ada perselisihan antara Neymar, dan Cavani. Edison Cavani sendiri tidak terlalu pusing dan merasa itu wajar. “Kami seperti keluarga, perselisihan tentu ada. Tapi pada akhirnya kami berjuang bersama,” Katanya.

Perubahan sikap Neymar kemudian terlihat di laga melawan Bayern Muenchen. Ia masih sering mendapat bola, tapi tidak keras kepala, dan rela berbagi meski ada peluang terbuka. Hal ini terlihat sangat nyata ketika Neymar tinggalkan bola untuk disambut Cavani dari luar kotak penalti walau punya peluang mengeksekusi sendiri.

Pendahulu Neymar

Kondisi kini terbalik, Malcom yang disebut sebagai penerus Neymar, entah sadar atau tidak sudah jadi panutan untuk mantan pemain Santos. Jika ada yang berkata, bagaimana seharusnya Neymar bersikap di PSG, jawaban sederhana keluar: “Seperti Malcom bersama Bordeaux!”

Malcom tanpa diragukan lagi merupakan bintang Bordeuax. Tapi tanpa ragu Ia merangkul rekan-rekannya yang belum bisa bahasa Perancis, dan bertindak sebagai penerjemah di dalam tim. Bintang dapat redup ketika ada cahaya yang lebih terang mendekat. Tapi sosok perekat tak pernah kehilangan atensi, karena merekalah sentral dari segalanya.

PSG mungkin memiliki banyak uang. Mereka mungkin atraksi utama dari Ligue 1 saat ini. Kedatangan seorang Neymar di Parc des Princes memang sesuatu yang mengejutkan. Tapi semua karena alasan yang salah. Mulai dari rumor bahwa kedatangannya adalah untuk menghindari Messi, sampai masalah regulasi finansial.

Jika ada satu yang bisa dicatatkan Neymar, dirinya dapat menjadi penyerang Brazil pertama yang benar-benar meraih kesuksesan di PSG. Aloisio, Christian Correa, Armando Monteiro, Denilson Nascimento, tak ada yang berhasil menjadi andalan di lini depan Les Parisiens.

Neymar bisa mematahkan kutukan itu! Seperti Malcom di Bordeaux. Sebelum Malcom datang, nama Denilson de Oliveira, Deivid de Souza, tak ada yang berhasil. Valdeir da Silva mungkin dapat memunculkan diskusi, tapi dirinya hanya menjalani dua musim dari masa empat tahun bersama Bordeaux.

Seperti kata Agung Rulianto, Ligue 1 memang berkembang, dan uang PSG jadi faktor utama. Tapi jika bicara talenta Brazil yang membuat divisi tertinggi Perancis kembali panas, nama dia bukan Neymar Neymar da Silva Santos Junior. Melainkan Malcom Filipe Silva de Oliveira!

Tersisa dua klub yang belum terkalahkan di Ligue 1 musim ini.
Keduanya harus bentrok. Siapa yang akan jadi korban?
PSG vs Bordeaux
Neymar vs Malcom
Sabtu, 30 September 2017 – 22.00 WIB

LIVE (tweet) @OPERft

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.