Lerby Eliandry: Titipan, Tumpuan, dan Dicampakkan

Lerby Eliandry: Titipan, Pembuktian & Dicampakkan | PHOTO: Tribun Kaltim
1,626

Jika dirinya ada di Inggris, Ia akan disejajarkan dengan Jamie Vardy, atau setidaknya ikon Watford FC, Troy Deeney. Mereka mulai karir dari liga semi-profesional, sampai menjadi bintang Premier League. Tapi di sini, penyerang dengan kisah serupa dicap sebagai pemain titipan.

Lerby Eliandry, penyerang Pusamania Borneo FC memulai karir di Turnamen Antar Kampung (Tarkam) sebelum membawa Samarinda juara di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012, dan dikontrak Persisam Samarinda U-21. Empat tahun kemudian, Lerby dipanggil ke tim nasional Indonesia untuk Piala AFF.

Lerby hanya mencetak tiga gol di QNB League 2015 sebelum liga domestik kita beku. Pada Torabika Soccer Championship (TSC), ia menambah pundi-pundi golnya menjadi tujuh.

Tapi raihan itu dirasa kurang untuk bisa membuatnya jadi bagi dari skuad Garuda asuhan Alfred Riedl. Apalagi Pusamania Borneo FC yang saat itu dibela Lerby hanya duduk di papan tengah.

Penampilan Lerby dengan seragam Merah-Putih juga gagal menarik hati mayoritas pendukung tim nasional. Ia dinilai kurang tajam, tak seperti Boaz Salossa, atau Irfan Bachdim. Meski memiliki pergerakan kaku, Lerby dapat membuka ruang untuk rekan satu tim.

Akan selalu ada pemain yang menempelnya, takut akan bola pantul (yang jarang ia terapkan). Tapi setidaknya itu memberi celah untuk pemain lain. Namun, tanpa gol, Lerby dianggap nol. Sama seperti Fernando Torres (Chelsea), ataupun Afonso Alves (Middlesbrough) di Premier League. Kehadiran Lerby di lapangan membuat bingung pecinta tim nasional. Padahal Riedl memiliki opsi yang lebih menjanjikan saat itu.

Efek Isu Mafia ?
https://images.performgroup.com/di/library/Goal_Indonesia/bc/9f/pusamania-borneo-fc_11pphbx0yfm2710ynma14adzou.jpg?t=-669921526&quality=90&w=1280
PHOTO: GOAL

Akhirnya Lerby dicap sebagai pemain titipan Nabil Husein. Nabil adalah pendiri Pusamania Borneo FC,pengusaha yang bawa klubnya ke divisi tertinggi sepak bola Indonesia secara kontroversial (katanya).

Tiga tahun lalu, di semi-final Divisi Utama, PSS Sleman bertemu PSIS Semarang. PSS menang 3-2 di laga itu. Tetapi kelima gol yang tercipta semuanya bunuh diri masing-masing klub.

Keduanya disebut ingin menghindari Pusamania Borneo FC, klub berusia tujuh bulan yang dianggap selalu didukung wasit. Tapi kepada Pandit Football, Nabil mengatakan sepak bola gajah tiga tahun lalu itu bukan urusan dia.

”Rumor seperti itu bisa saja terjadi. Kami tahu secara pasti bahwa tidak ada sepak bola gajah. Tapi itu urusan mereka. Kami tidak pilih-pilih lawan, siapa saja siap,” Kata Nabil Husein.

Masalah mafia sebenarnya sudah membuat Nabil gerah. Kepada situs resmi klub, Nabil menyarankan orang-orang yang memberi label tersebut kepada timya lebih baik main di liga amatir. ”Kami menang disebut mafia, giliran kalah takdir Tuhan,” Protes Nabil.

”Kita sekarang sudah masuk ke sepak bola industri. Bukan zamannya untuk ganggu klub orang lain. Jika ada yang belum siap, silahkan minggir, buat liga amatir,” Pesannya akhir Oktober 2014.

Bagaimana cerita klub yang baru lahir bisa ganas? Mafia? Hingga saat ini itu masih teori konspirasi. Sama seperti iluminanti, atau teori yang menyebut Nicolas Cage adalah seorang penjelajah waktu. Alasan utamanya adalah uang.

Kepada Detik, Nabil mengatakan bahwa diri mereka membeli Peseba Super Bangkalan seharga tiga miliar rupiah. Sebelum menyiapkan dana lima kali lipatnya untuk membangun tim dalam semusim.

”Pertama kami mencairkan tiga miliar. Ini adalah peryataan bahwa kami akan jadi profesional. Komposisinya 60% pemain lokal,” Kata Nabil. ”Dana sekitar 15 miliar, nanti disesuaikan dengan kebutuhan tim,” Tambah direktur eksekutif mereka tiga tahun lalu, Abdul Bari Al-Katiri. Angka itu batas gaji tertinggi Liga 1 2017, dan mereka sudah melakukannya sejak di Divisi Utama.

Dihujat Sejak Lama
https://www.jawapos.com/uploads/imgs/2015/11/11130_28786_Lerby-Eliandry_Adrian-suwantoradar-bali_Radar-Bali.jpg
Lerby sudah dihujat sejak di Bali | PHOTO: Jawa Pos

Entah ada apa antara Lerby, Samarinda, dan mafia. Pasalnya, mereka sudah lama dihujat. Saat Persisam Putra Samarinda yang kini jadi Bali United masih tinggal di Kalimatan. Januari 2012, Manajer Persisam Erwin Dwi Budiawan mengaku kecewa dengan stigma mafia yang menempel pada klub.

”Jujur, saya sangat kecewa. Kita disebut sarang mafia. Berarti itu juga termasuk bapak saya. Dia yang mendirikan klub sampai besar. Sekarang disebut mafia?,” Cerita Erwin seperti dikutip Tribun News.

Lerby yang mengawali karir profesional bersama Persisam, dan sempat ikut ke Bali saat tim tersebut pindah, dan ganti nama, juga dibenci di Pulau Dewata. Istri Lerby, Risma Syahrozad, menceritakan bagaimana penyerang yang saat itu masih berstatus pacarnya dimaki karena belum mencetak gol.

”Mereka teriak ‘Lerby out, Lerby out’, akan tetapi saat itu Bali United tetap percaya ke dirinya. Mereka minim pemain asing, jadi Lerby tetap jadi pilihan pelatih,” Kata Risma ke Kumparan. ”Tapi dirinya menjadikan makian itu sebagai motivasi,” Lanjutnya.

Risma kemudian kembali menceritakan kisah pahit itu kepada Detik, saat Lerby jadi kambing hitam kegagalan tim nasional. ”Waktu di Bali United hanya satu komunitas, tapi kini semua orang seperti meragukan dirinya,” Kata Risma.

Bukan Lerby
https://i.pinimg.com/originals/59/15/a1/5915a130d5b17bef263543747975069b.jpg
Indra Sjafri akui adanya pemain titipan | PHOTO: Pinterest

Masalah pemain titipan memang ada. Pelatih Tim Nasional U-19 Indra Sjafri pernah bercerita bagaimana tentang hal ini. Salah satu penyerang yang ia seleksi ada anak dari mantan pemain tim nasional. Tapi kemampuannya dianggap kurang baik.

”Dari sembilan penyerang yang diseleksi, dia ada di posisi buncit. Saya dikritik salah satu media nasional karena tidak memanggil dia. Saya ajak ayahnya makan siang, dan berkata jujur,” Cerita Indra Sjafri kepada Tempo.

”Anaknya bisa saja diangkat jadi penyerang utama kita, tapi kemudian harus konfrensi pers menjelaskan situasi yang ada. Ayahnya tersinggung, dan langsung pergi. batal makan,” Jelasnya.

Kisah itu diungkap Coach Indra -sapaan pria 54 tahun itu- pada 2013. Saat itu, Lerby sudah tidak bisa masuk ke U-19, lagipula bapaknya juga bukan seorang pesepakbola.

Lerby sendiri dianggap layak masuk skuad AFF 2016 oleh Alfred Riedl, dan Jacksen F. Tiago. Pelatih yang kini menjadi nahkoda Barito Putera menyebut duet Boaz-Lerby punya potensi. Sementara Riedl kagum dengan etos kerja Lerby.

”Dia pekerja keras, sangat bersemangat saat latihan ataupun pertandingan. Dengan semangat juang yang tinggi seperti itu, masa depan dia cerah,” Kata Alfred Riedl ke FourFourTwo.

Jawaban Yang Tak Terdengar
http://www.pikiran-rakyat.com/sites/files/public/image/antarafoto-timnas-indonesia-thailand-041017-sgd-2.jpg
Lerby absen setelah membuktikan diri | PHOTO: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc/17/Via Pikiran Rakyat

Kini, Lerby berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu penyerang terbaik milik Indonesia. Bersama Pusamania Borneo FC, dirinya mencetak 16 gol dalam semusim. Sebuah rekor baru bagi pihak klub yang sebelumnya memiliki Fernando Soler sebagai penyerang tersubur selama satu musim (15 gol / 2014).

Dia hanya satu gol di bawah Penyerang Persela Lamongan Samsul Arif Munip yang saat ini menjadi pemain lokal paling produktif Liga 1. Sayangnya, ketika Lerby sudah layak untuk membela tim nasional, dirinya tidak dipanggil oleh Luis Milla.

Keputusan Milla itu kemudian ditanggapi dingin oleh Nabil Husein lewat akun Twitter miliknya. ”Anda tidak menghargai kinerja orang. Berjuang menjadi yang terbaik untuk dapat dipanggil tim nasional Indonesia. Luis Milla, semoga sukses.”

Kekecewaan yang wajar ketika kita melihat Pusamania Borneo FC yang sukses angkat derajat mereka ke posisi delapan klasemen. Dengan memiliki penjaga gawang yang melakukan 100 penyelamatan, Muhammad Ridho, serta salah satu penyerang lokal tersubur, Lerby Eliandry!

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.