Hancur Lebur Bersama Frank de Boer!

Frank de Boer dipecat setelah 77 hari | PHOTO: CPFC
115

Crystal Palace resmi memutus kerja sama mereka dengan manajer asal Belanda, Frank de Boer setelah kurang dari tiga bulan di Selhurst Park. Ditunjuk sejak 25 Juni 2017, adik Ronald de Boer itu hanya memimpin lima laga Crystal Palace. Tanpa satupun kemenangan di Premier League.

Kekalahan tipis 1-0 melawan Burnley Minggu (10/09) memastikan bahwa karirnya di Crystal Palace telah habis. Ini adalah kegagalan kedua de Boer setelah pergi dari Ajax Amsterdam. Sialnya, semua sudah bisa terbaca dari awal Ia menginjakkan kaki di Kota London.

Frank de Boer yang mengawali karir kepelatihannya dengan baik di Ajax Amsterdam gagal bersama Inter Milan, dan Crystal Palace. Padahal di Kota Amsterdam, dirinya menjadi salah satu manajer tersukses Ajax. Sosok yang berhasil bertransformasi dengan baik dari pemain berkualitas, menjadi manajer handal. Ajax Amsterdam berhasil menjuarai Eredivisie empat musim beruntun bersama de Boer. Lalu apa yang salah?

Adik kembar dari Ronald de Boer ini berhasil menyudahi puasa gelar Ajax Amsterdam setelah menjadi pengganti Martin Jol. Dialah orang yang bertanggung jawab atas talenta Christian Erikssen, Toby Alderweireld, serta Daley Blind. Tapi sepertinya semua itu hanya bisa dilakukan di Ajax.

Ajax Amsterdam sama dengan FC Barcelona. Mereka punya filosofi permainan yang sudah turun menurun lintas generasi. Bahkan tak sungkan membuang pemain bertalenta yang kurang cocok untuk tim. Mikel Arteta dibuang Barcelona, sementara Quincy Promes, dan Yassin Ayoub jadi korban Ajax.

Promes kini menjadi andalan Spartak Moscow, sementara Ayoub berubah jadi kunci permainan Utrecht. Namun talenta mereka tidak lihat oleh Ajax. “Saya tahu hampir semua pemain U-19, dan U-21. Ini penting, karena dua atau tiga tahun lagi mereka bisa jadi kunci tim utama,” Aku Frank de Boer ke BBC pada 2012.

Promes, dan juga Ayoub telah meninggalkan Ajax saat de Boer melatih. Ia juga mendapat bantuan dari Marc Overmars, mantan pemain yang merupakan bagian tim pelatih U-21 sebelum menjadi direktur olahraga klub. Overmars tau karakteristik pemain muda Ajax, dan paham betul filosofi klub. Hal ini memudahkan de Boer untuk memilih pemain, dan tak dirasakan pendahulunya, Martin Jol. Hal serupa tidak bisa diterapkan di Crystal Palace.

Memaksakan Ideologi

Kesalahan paling fatal dari Frank de Boer adalah berharap tim barunya sama seperti Ajax Amsterdam. Saat dia ditunjuk sebagai manajer Crystal Palace, BBC menulis bagaimana de Boer bisa membuat The Eagles main bak FC Barcelona. Bahkan mulai mengandalkan pemain muda setelah nama sukses terakhir yang mereka produksi adalah Wilfried Zaha.

Sialnya pemikiran itu salah. Bukan de Boer yang membentuk Ajax. Tapi Ajax yang membantu de Boer. Berkat filosofi menyerang, dan regenerasi mereka, Frank de Boer dengan mudah memilah pemain muda. Sementara Crystal Palace bukanlah klub yang memiliki akademi menetereng. Mereka bukan Manchester United, West Ham United, ataupun Everton.

Dengan segudang talenta di akademi, de Boer tak perlu banyak uang untuk membentuk tim. Sementara kualitas pemain akademi Crystal Palace tak sebanding dengan Ajax. Terlebih lagi dengan gaya permainannya. Terbentuk di Ajax Amsterdam, dan FC Barcelona, de Boer ingin mendominasi pertandingan. Memaksimalkan pengusaaan bola, dan merubahnya jadi tiga angka.

Itu bukan gaya permainan Crystal Palace. The Eagles punya banyak pemain berkualitas di dalamnya. Sebut saja Cabaye, Puncheon, Scott Dann, dan James Tomkins. Tapi dengan ujung tombak seperti Benteke, serta Conor Wickham, de Boer tidak bisa meminta timnya main pelan. Menghabiskan waktu untuk menguasai bola akan membuat ruang Wickham, dan Benteke tertutup. Suka atau tidak, Crystal Palace sudah dibentuk untuk bermain seperti itu.

Pendahulu de Boer, Sam Allardyce, Alan Pardew, Tony Pulis, semua punya gaya main yang sama. Cocok untuk Crystal Palace. Bahkan jika ada yang mirip dengan de Boer, dia adalah Ian Holloway. Melihat Ian Holloway saat di Blackpool, dirinya bisa membuat tim seadaanya bermain atraktif. Namun, Holloway juga tak betah di Crystal Palace karena merasa kekurangan dana.

Kepala Batu

http://i3.mirror.co.uk/incoming/article9732465.ece/ALTERNATES/s1200/Crystal-Palaces-Christian-Benteke-celebrates-scoring-their-second-goal.jpg
Gaya de Boer bersahabat untuk Benteke | PHOTO: Mirror

Untungnya, Holloway pintar untuk beradaptasi. Dirinya tak memaksakan ideologi permainan ke tim, tapi lebih menyesuaikannya. Tidak dengan Frank de Boer. Jika apa yang ditulis Telegraph benar, de Boer merupakan orang yang keras kepala.

“Seorang pemain senior Crystal Palace mempertanyakan kapabilitas de Boer sebagai seorang manajer. Ia telah merasa tak dipedulikan karena gagal beradaptasi dengan gaya main de Boer,” Tulis Telegraph tak menyebut nama sumber mereka. Sialnya banyak yang mengeluhkan hal serupa.

“Saya menyaksikan Crystal Palace musim lalu. Mereka main dengan rapi. Lalu kenapa ingin mengganti gaya?,” Kata mantan pemain Inggris, Chris Sutton. “Entah siapa yang mewawancarai dirinya. Tapi kenapa mereka tidak mencari pelatih yang mirip dengan Sam Allardyce? Benteke adalah pemain yang mahal, dan akan sangat sia-sia jika tidak dimaksimalkan,” Lanjutnya kepada BBC.

Benteke datang musim lalu dari Liverpool dengan dana lebih dari 28 juta Poundsterling. Dia adalah rekor belanja Crystal Palace, dan mencetak 17 gol musim lalu. Tidak membiarkannya lepas di depan gawang lawan lewat ala tiki-taka adalah sebuah dosa! Kesalahan itu pernah dibuat Liverpool yang tebus Benteke 41 juta Poundsterling dari Aston Villa. Kini diulang oleh Frank de Boer.

Tak Adil Menunjuk de Boer

Meskipun begitu, tak adil jika hanya menyalahkan Frank de Boer dalam kegagalannya. Belajar dari saat dirinya ada di Inter Milan, de Boer terpaksa mendatangkan Gabriel Barbosa. Manajemen Inter Milan yang ingin pemain Brazil itu ada di Giuseppe Meazza. Inter berusaha memiliki Neymar mereka sendiri, dan akhirnya berujung pada kegagalan de Boer.

Bersama Crystal Palace dirinya hanya bertahan 77 hari. Tapi itu juga karena direksi klub melihat bahwa Crystal Palace telah menjalani awal musim terburuk sepanjang sejarah mereka. Padahal, Manajer Burnley Sean Dyche mengaku bahwa Crystal Palace main lebih baik dibanding timnya. Meski berhasil menang, Dyche merasa anak-anak asuh de Boer tidak layak kalah.

“Mereka main lebih baik. Bahkan memiliki beberapa peluang emas. Tapi terkadang, anda memang tak mendapat apa yang seharusnya. Itu pernah kami alami saat melawan West Bromwich Albion,” Aku Dyche. Dari empat laga, Crystal Palace hanya satu kali gagal menguasai pertandingan. Itupun mereka berhasil menahan Liverpool hanya untuk menang dengan satu gol. Sisanya, Burnley, Swansea,  dan Huddersfield, mereka menguasai arus bola.

Memang gol belum kunjung datang, tapi de Boer butuh waktu. Dirinya mengatakan bahwa setidaknya dia butuh 10 pertandingan. “Biasanya anda butuh 10 pertandingan. Tapi di sini pra-musim dihitung,” Kata de Boer kepada Times sebelum laga melawan Burnley. Akhirnya Ia hanya mendapatkan lima laga kompetitif. Alasan de Boer juga didukung Jermaine Jenas. Mantan pemain Tottenham itu merasa bongkar-pasang ruang ganti jadi alasan Crystal Palace hancur.

“Berapa banyak pelatih yang datang dalam beberapa tahun terakhir? Mereka tentu membutuhkan waktu. Sial, kesabaran manajemen semakin pendek kepada mereka,” Kata Jenas di BBC Radio 5 Live.

Muusim masih panjang, Crystal Palace punya waktu. Tapi apa de Boer dapat kesempatan yang sama? Pindah ke London membuat semua kelemahannya terekspos. Akankah ada tim lain yang memberinya kesempatan?

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.