Burnley FC: Permata di Tengah Tuntutan Zaman

Burnley kejutkan Chelsea di laga pembuka | PHOTO: 90min / Getty
304

Pekan pertama Premier League resmi berakhir. Beberapa kejutan terjadi, mulai dari kemenangan Huddersfield Town, hingga hasil imbang yang diterima Liverpool kala bertemu Watford. Tapi tidak ada yang lebih mengejutkan dibanding kekalahan Chelsea dari Burnley FC, Sabtu (12/08). Juara bertahan ditekuk 3-2 oleh sebuah tim yo-yo, yang masih sering naik-turun divisi.

Kekalahan Chellsea itu tentu memiliki faktor lain seperti fakta bahwa mereka hanya bermain dengan sembilan orang. Namun, di sisi lain, Burnley unggul tiga gol lebih dulu ketika The Blues baru ditinggal Gary Cahill seorang. Satu-satunya pemain Inggris yang ada di dalam sebelas pilihan utama Antonio Conte. Dominasi bintang. talenta asing, dan status juara bertahan nyatanya tidak bisa menyelamatkan Chelsea.

Padahal Burnley hanya memiliki dua pemain asing yang kurang tenar di mata banyak orang. Steven Defour asal Belgia, dan Johann Berg Gudmundsson, sayap Islandia. Sisanya adalah pemain-pemain asal Britania Raya, dan Republik Irlandia. Hal ini sudah terjadi sejak lama, dan memang filosofi dari Sean Dyche. Express bahkan klaim mantan manajer Watford itu tidak akan pernah melatih klub seperti Manchester City, Chelsea, dan Liverpool kala dirinya menolak Arsenal.

http://cdn3-i.hitc-s.com/452/burnleys_steven_defour_celebrates_scoring_their_first_goal_330534.jpg
Defour satu dari sedikit non-UK di Burnley | PHOTO: HITC

Dyche sebenarnya tidak alergi kepada pemain asing, tapi ia lebih menyesuaikan diri dengan keadaan klub. Hal itu diutarakannya kepada Four Four Two, tiga tahun lalu. “Banyak yang mengatakan bahwa saya tidak memiliki minat untuk pemain-pemain Eropa. Tapi kenyataannya, baik di Watford atau Burnley kami tak mampu memantau ke luar negeri,” Ungkap Dyche. “Mengirim pencari bakat ke sana akan menambah biaya, jadi saya harus bekerja menggunakan apa yang ada, pasar di Britania,” Lanjutnya.

Keterbatasan itu kini menjadi ciri khas Dyche, dan sejak dirinya melatih, Burnley selalu jadi klub dengan pemain asing, non-britania paling sedikit di Premier League. Saat promosi dari Championship pada 2014/15 hanya ada dua pemain non-britania. Kini angka itu bertambah, tapi tetap hanya empat pemain asing di tubuh mereka. Sean Dyche bahkan menurunkan 11 pemain home-grown atau binaan, ketika bertemu Tottenham pada akhir 2014.

Melawan Cuci Otak

Dyche mungkin mengaku bahwa dirinya tak alergi pemain asing, tapi ia juga secara terbuka melemparkan kritik terkait hal ini. Pertama dirinya disebut sebagai manajer kuno, karena mengandalkan pemain-pemain lokal, tetapi ia tidak ambil pusing. Lalu, ketika Burnley kembali bertemu Tottenham di ajang FA Cup 2015, ia meminta Inggris untuk tidak terpengaruh oleh pengaruh asing.

“Kita jangan sampai terkena cuci otak dan mengatakan banyak talenta bagus di luar sana,” Kata Dyche memberi penekanan bahwa Britania juga memiliki talenta bagus seperti Danny Ings, Scott Arfield, dan Harry Kane. “Kane punya talenta, jangan karena ia tidak memberikan klub 50 juta Poundsterling, lalu menganggapnya jelek. Danny Ings juga begitu, ia datang dari kompetisi semi-profesional,” Lanjutnya.

http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2009/01/14/article-0-030C3384000005DC-122_468x371.jpg
Jay, dari akademi ke tim nasional | PHOTO: Daily Mail

Dyche menganggap Premier League merupakan jati diri mereka, dengan mengandalkan orang asing. Manajer, dan pemain. Ia bahkan secara terbuka mengatakan dialah ‘special one‘ dan bukan Mourinho. Meski menurutnya ada juga beberapa manajer seperti Mauricio Pochettino, dan Arsene Wenger yang peduli pada talenta lokal. Dia menyebut kultur Premier League saat ini sebagai ‘jeans bermerek’. Mengutamakan prestise dibanding kualitas.

Menunggu Efek Brexit

Dyche terus melakukan pembuktian bahwa Britania memiliki talenta lokal kelas dunia. Bersama Dyche, Burnley berhasil memperkenalkan dunia kepada Danny Ings, Charlie Austin, Jay Rodriguez, dan Michael Keane. Modal 18,5 juta Poundsterling itu menjadi lebih dari dua kali lipatnya (46,1).

Laga melawan Chelsea juga pembuktian sendiri, saat Chelsea hanya memiliki satu pemain Britania di lapangan, sementara Burnley kebalikannya. Mereka berhasil menang, mengalahkan tim penuh bintang asing seperti Cesc Fabregas, Kante, dan David Luiz.

Kita hanya tinggal menunggu efek keluarnya Britania dari Uni Eropa, di mana akan ada masalah izin kerja untuk pemain-pemain asing. Saat ini Burnley mungkin hanya tim papan tengah, yo-yo bahkan. Tapi jika prinsip ini terus digunakan, permata sepak bola Britania ini bisa menjadi kebanggan di daratan milik Ratu Elizabeth.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.