Ancelotti & Jupp Heynckes Sebagai Transisi Bayern Muenchen

Jupp Heynckes akan bantu Bayern di masa transisi | PHOTO: Rabona / Square Space
572

Carlo Ancelotti sudah resmi meninggalkan Kota Muenchen setelah Bayern digilas Paris Saint-Germain (PSG) di fase grup UEFA Champions League akhir bulan lalu. Dani Alves, Edison Cavani, dan Neymar mengunci nasib Don Carlo di Allianz Arena. Setelah tampil kurang memuaskan di 1.Bundesliga, Ancelotti sebenarnya telah tak dipercaya beberapa pemain senior di ruang ganti, sehingga kekalahan dari PSG membuat direksi klub harus bertindak tegas.

“Pertandingan di Paris menjawab semua konsekuensinya,” Kata Karl-Heinz Rummenigge seperti dikutip oleh Guardian. Presiden Bayern Uli Hoeness juga mengkonfirmasi bahwa perselisihan terjadi antara Ancelotti, dan para pemain. “Ada lima pemain yang beda pandangan dengan dia. Akhirnya ini sudah tak bisa dihindari lagi,” Aku Hoeness ke Westfalenpost.

Kini, nama familiar, Josef “Jupp” Heynckes kembali ke Allianz Arena. Ini adalah kesempatan ke empat Jupp untuk mengarahkan Die Roten. Sebelumnya Ia telah memberikan delapan piala untuk Bayern. Termasuk satu gelar UEFA Champions League. Jupp keluar dari masa pensiunnya untuk membantu Bayern menyelesaikan musim 2017/18 dengan baik.

Kedatangan Jupp juga disambut oleh Robert Lewandowski, dan Arjen Robben. Dua pemain yang sempat dikabarkan kurang puas dengan kinerja Don Carlo. Penyerang Polandia itu meminta rekan-rekannya untuk bersiap menyambut musim baru di bawah Jupp Heynckes. Sementara Robben yang sempat ditangani Jupp sebelumnya, langsung semangat untuk kembali ke Jerman.

“Ini adalah kejutan bagi saya. Saat berita itu muncul, saya sedang ada di Belanda bersama tim nasional. Ini sangat menyenangkan. Saya percaya kami akan kembali ganas di masa mendatang. Semua dimulai Sabtu mendatang,” Kata Robben seperti dikutip FOTMOB.

Ancelotti Tetap Berkelas
http://a.espncdn.com/combiner/i/?img=/photo/2017/0619/r221767_1296x729_16-9.jpg&w=738&site=espnfc
PHOTO: ESPN

Meski beberapa pemain merasa Ancelotti gagal bersama Bayern, kepergian Don Carlo tetap mendapat penghargaan dari mantan pemainnya. Thiago, Vidal, bahkan Lewandowski memberi ucapan perpisahan melalui sosial media masing-masing. Don Carlo sendiri juga merasa bangga mendapatkan kesempatan melatih Die Roten.

Sama seperti kompatriotnya, Giovanni Trapattoni, hubungan Ancelotti dan Bayern tampak tidak berubah. Nama Trapattoni bahkan sempat kembali menjadi manajer Die Roten pada 1996-1998 setelah segala drama, dan nihil gelar di kesempatan pertamanya 1994/95.

Kepergian Ancelotti bahkan bukan hanya mendapat tanggapan simpatik dari pemain Bayern, tapi juga Manajer Borussia Dortmund Peter Bosz yang mengaku sedih melihat kepergian Don Carlo. Manajer tersukses dalam sejarah Bayern Muenchen, Ottmar Hitzfeld bahkan sempat meminta FC Hollywood untuk tetap percaya pada Ancelotti.

“Ancelotti adalah seorang ahli. Dia tahun sebuah tim tidak perlu tampil dengan baik di pekan-pekan pembuka. Saya yakin Ia akan mengantarkan Bayern menjadi juara lagi musim ini,” Kata Hitzfeld seperti dilansir Four Four Two. Itu memang keluar dari mulut Hitzfeld sebelum Bayern ditekuk PSG. Bukan berarti kelas Ancelotti turun setelah kalah dari Neymar, dan kawan-kawan.

Bagi David Beckham, Ancelotti tetap pelatih terbaik yang pernah bersamanya meski didepak dari Allianz Arena. Mantan pelatih Brazil, Felipe Scolari bahkan sudah menawarkan pekerjaan untuk Ancelotti. “Andai dia memiliki kesempatan melatih Guangzhou Evergrande, dia harus ke sini. Tapi untuk sementara ini tugas saya,” Katanya pria 68 tahun tersebut.

Kini, sama seperti Guardiola, dan Luis Enrique setelah menangani Barcelona, Ancelotti memilih untuk rehat sejenak. “Saya akan istirahat 10 bulan ke depan, dan tidak memilih klub,” Tuturnya awal bulan ini.

Raihan Ancelotti sebenarnya lebih baik dibanding musim pertama Jupp Heynckes. Biarlah dirinya beristirahat. Jupp meraih empat piala pada kesempatan pertamanya sebagai nahkoda Bayern, dua kali juara liga, dan DFL-Supercup. Tapi, semua diraih dalam empat tahun. Sementara Ancelotti, kurang dari dua musim mengoleksi dua DFL-Supercup, dan satu piala 1.Bundesliga!

Akhiri dari Masa Transisi
http://miasanrot.de/wp-content/uploads/2017/05/FBL-GER-CUP-BAYERN-MUNICH-DORTMUND.jpg
Pep ubah Bayern, Lahm porosnya | PHOTO: Miansanrot (ODD ANDERSEN/AFP/Getty Images)

Sekarang semua kembali ke pihak Bayern Muenchen. Ancelotti yang diminta Ottmar Hitzfeld untuk dipertahankan sudah hilang. Jupp Heynckes hanya menangani Die Roten hingga akhir musim. Lalu siapa yang akan maju jadi pemercik kebangkitan Bayern?

Bayern Muenchen memang baru kali ini dalam 21 tahun tampil buruk. Tapi jika kita menarik benang hingga ke pusat masalahnya, semua terjadi karena Pep Guardiola. Mantan pelatih Barcelona itu adalah nahkoda Bayern dengan catatan terbaik ke empat di bawah Ottmar Hitzfeld, Udo Latek, dan Jupp Heynckes. Dia memberi tujuh piala, serta merubah pendekatan Bayern terhadap sepak bola.

Poin kedua inilah yang sulit untuk diperbaiki. Pep sebelumnya memodifikasi permainan Johan Cruyff, sehingga dunia tergila-gila dengan tiki-taka Barcelona. Kemudian Pep pergi, Blaugrana mengorbankan Tito Vilanova, dan Tata Martino sebelum Luis Enrique pulang. Bahkan mungkin buat sebagian di antara kita, Enrique, dan Valverde juga masih bagian dari transisi mereka.

Inter Milan membutuhkan tujuh tahun untuk bisa mengubah pola Jose Mourinho menjadi seperti saat ini. Bahkan mantan tim asuhan Mourinho, dan Ancelotti, Real Madrid bisa dikatakan lebih parah. Meski sering kali membawa pulang piala, prestasi mereka beserta nama lainnya tidak dipandang Florentino Perez yang sempat merasakan sentuhan magis Vicente del Bosque.

Bahkan Zidane sekalipun sebelum Ia berhasil meraih tujuh gelar termasuk dua UEFA Champions League. Perlu ada ancaman dari klub Perancis, Olympique Lyon, dan Bordeaux lebih dulu. Ketika kedua tim itu sudah terlihat serius meminati Zizou, barulah Perez mempercayakan tim utama kepada mantan kapten Perancis. Sekarang, siapa yang ingin didapuk Bayern selepas Jupp pergi di akhir musim?

Jawaban Ada di Depan Mata
https://www.welt.de/img/sport/fussball/bundesliga/fc-bayern-muenchen/mobile166217270/1751356717-ci16x9-w1200/Bayern-Munich-Training.jpg
Seperti Zidane, Sagnol asisten Ancelotti | PHOTO: Welt.de

Ketika Ancelotti hengkang, ada empat nama yang diunggulkan untuk menjadi penerus. Julian Nagelsmann dari TSG Hoffenheim, Thomas Tuchel, dan Luis Enrique yang sedang menjadi pengangguran, serta Willy Sagnol. Sagnol sudah sempat menangani Bayern ketika ditahan imbang Hertha Berlin sebelum jeda internasional. Tapi Ia kemudian pergi ketika Jupp Heynckes datang.

Pilihan favorit kemudian jatuh kepada Julian Nagelsmann. Nahkoda termuda dalam sejarah liga, dan dijuluki ‘Mini-Mourinho’ oleh mantan penjaga gawang Jerman, Tim Weise. Prestasinya juga cukup mengkilap. Sukses membawa Hoffenheim ke kualifikasi UEFA Champions League untuk pertama kalinya sebelum kalah dari tim Juergen Klopp, Liverpool dan main di Europa League.

Tapi Nagelsmann sendiri ogah melatih Die Roten. “Berita terkait saya dan Bayern adalah hal konyol. Tidak ada kontak apapun di antara kami, dan saya sudah tujuh tahun di Hoffenheim. Setiap harinya selalu bahagia, serta semangat. Saya fokus kepada tim ini,” Kata Nagelsmann kepada ESPN.

Lalu kenapa tidak kembali kepada Sagnol? Sama seperti Zidane di Real Madrid, Ia adalah mantan pemain Bayern. Dirinya bahkan pernah menangani Bordeaux ketika akhirnya Zidane gagal dipinang Kota Wine itu. Mereka sama-sama menjuarai Piala Dunia, dan masih tergolong muda.

Selain semua cocoklogi di atas, Sagnol juga terbukti memberi dampak positif ke Bordeaux. Dirinya memberikan fondasi buat Bordeaux yang sedang goyah setelah ditinggal Laurent Blanc. Tanpa memiliki banyak dana, Sagnol mengorbitkan berbagai nama dari akademi.

Gaetan Lamborde, Valentin Vada, Thomas Toure, Cedric Yambere, semua jadi andalan tim saat ini. Ditambah mata jelinya memberikan Bordeuax sosok Malcom, penyerang muda Brazil yang membuat Ligue 1 kembali jadi perhatian sebelum Neymar datang. Dengan modal seperti itu, kenapa tidak memberikannya kesempatan sekali lagi musim depan?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.