401 Derby: Pembelah Kanada

Montreal Impact adalah klub yang paling sering dibobol Giovinco dalam karirnya | PHOTO: Sportsnet
340

Major League Soccer (MLS) merupakan salah satu liga paling unik di dunia. Menerapkan sistem franchise, MLS tak mengenal sistem promosi, dan degradasi. Pada dasarnya selama sebuah tim memiliki dana cukup, akademi, dan stadion, mereka diizinkan bermain di MLS. Sama seperti di daratan Eropa, sepak bola Amerika Serikat juga tempat untuk uang berbicara.

Apalagi setelah mereka meluncurkan kembali liga dengan mendatangkan David Beckham ke LA Galaxy. Uang jadi salah satu senjata utama sebuah klub untuk bersaing di sini. Hal ini membuat banyak klub legendaris yang memiliki sejarah mulai terpinggirkan. Sebut saja New York Cosmos, tim yang ‘memperkenalkan’ sepak bola ke publik Amerika Serikat tertutup oleh NY Red Bull, dan NYCFC. Begitu juga dengan Montreal Impact yang tidak lagi jadi klub kebanggan Kanada.

Montreal, dan Toronto selalu memiliki rivalitas tak tertulis. Keduanya merupakan dua kota atraksi utama Kanada, dan selalu bersaing menarik minat dunia. Montreal selalu menjadi pusat ekonomi, dan budaya Kanada. Namun, Toronto yang ada di provinsi ibu kota, Ontario kini lebih dikenal, sampai dijuluki ‘Kota Global’. Pada 2008, sepak bola ikut mewarnai rivalitas mereka.

Tetua yang Dilupakan

Montreal Impact adalah klub tertua di Kanada setelah dibentuk oleh Keluarga Saputo pada 1992. Mereka adalah pionir sepak bola Kanada, bahkan ikut merasakan drama Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Montreal Impact sudah berpindah-pindah liga, mulai dari North America Soccer League (NASL), hingga United Soccer League (USL) yang kini menjadi kompetisi developmental Amerika Serikat. Tapi ketika MLS lahir, Montreal Impact tak masuk dalam pembicaraan.

Uang menjadi masalah utama Montreal Impact. Sementara Toronto FC yang dibentuk dengan dana 10 juta Dollar Amerika Serikat pada tahun 2005, langsung berlaga di MLS. Toronto FC adalah klub Kanada pertama yang mewarnai MLS. Bukan klub tertua Negeri Daun Maple, Montreal Impact.

Impact baru bisa merancang tim MLS mereka pada 2007. Mereka juga masih membutuhkan waktu lima tahun untuk benar-benar bisa berkompetisi di sana. Padahal target awal Joey Saputo adalah musim 2011, tapi mereka masuk pada 2012. Kegagalan Impact dikarenakan Komisaris MLS Don Garber lebih memilih Whitecaps sebagai tim Kanada baru mereka.

Vancouver Whitecaps sebenarnya lebih tua dibandingkan Montreal Impact. Tetapi mereka sempat kehilangan hak nama Whitecaps sebelum mendapatkannya kembali pada 2010. Belajar dari kasus Steaua di Romania yang juga kehilangan nama mereka, hal itu mengubah klub.

Raksasa Romania yang sudah dikenal sebagai Steaua Bucharest kini hanya bisa menyebut diri mereka FCSB, dan mulai ditinggalkan suporter. FCSB bukanlah Steaua meski sejarah klub tetap melekat pada mereka. Inilah yang membuat pada akhirnya, Montreal Impact bisa disebut klub tertua Kanada.

Muda Berkuasa

Seiring berjalannya waktu, Toronto FC kini menjadi klub Kanada paling superior di MLS. Mereka berhasil boyong nama-nama tenar seperti Jermaine Defoe, Jozy Altidore, dan Giovinco menunjukkan kekuatan finansial tim. Tapi, usaha Toronto baru berbuah sejak tahun lalu. Mereka mengakhiri MLS di posisi lima klasemen, dan lolos ke final fase play-off. Sayangnya, Giovinco dan kawan-kawan kalah dari Seattle Sounders lewat adu penalti.

Sementara Montreal Impact yang pernah mendatangkan Didier Drogba tak pernah lepas dari papan tengah. Kini mereka memiliki Blerim Dzemaili, serta Marco Donadel di tengah. Tetapi keduanya belum bisa memberi dampak. Impact. “Jika melawan Toronto, anda harus menang. Apapun alasannya,” Aku Kapten Montreal Impact Patrice Bernier.

Toronto telah resmi mengangkat Supporter Shield 2017 setelah unggul sembilan poin dari pesaing terdekat New York City FC dengan tiga laga tersisa. Sementara Montreal sudah dipastikan gagal masuk ke play-off musim ini. Akan tetapi itu tidak mengurangi rivalitas kedua tim.

Ulah Suporter

Kelakuan kedua belah suporter membuat rivalitas antar tim asal Kanada ini semakin panas. Tahun lalu, sebuah spanduk berbau seksis dipampang suporter Toronto. Spanduk itu bergambarkan seorang perempuan yang sedang berlutut menghadap sebuah karakter animasi.

Hal itu membuat beberapa suporter Impact tersinggung. Seorang suporter Montreal bernama Lizzy menuliskan di sosial media miliknya. “Bagaimana bisa hal seperti ini lolos dari pengamanan Toronto FC. Saya sebagai suporter Impact & seorang perempuan mengharapkan sebuah permintaan maaf,” Tulisnya di @girlsloveIMFC.

Cuitan Lizzy itu kemudian dibalas oleh akun resmi Toronto FC yang meminta maaf, dan berjanji akan melakukan investigasi. Toronto kemudian juga melepaskan pernyataan resmi terkait hal ini di sosial media miliknya. Pada laga yang terjadi Agustus tahun lalu itu, manajer Montreal Impact Mauro Biello juga sempat memprotes wasit karena anak buahnya diusir dari lapangan.

Setahun kemudian suporter Toronto kembali berbuat ulah. Saat bertemu Impact, mereka bernyanyi di tribun membahas perbedaan poin mereka di klasemen. “Prediksi hari ini beda 17 poin!,” Sorak mereka di tribun.  Laga saat itu berakhir 1-3 untuk Toronto. Sorakan suporter Toronto itu belum separah perkataan pendukung Impact Juni 2017 yang bersorak “F*CK Toronto”.

Para Pembelot

Meski Toronto akhir-akhir ini lebih berprestasi, nyatanya lebih banyak pemain yang menyebrang ke Montreal dalam sejarah klub. Padahal menurut laporan Forbes yang dikutip Statista, Toronto lebih berharga dibandingkan Montreal Impact. Dengan klub Giovinco itu ada di angka 280 juta US Dollar, tiga tertinggi dari semua klub MLS. Sementara Montreal Impact hanya 175 juta Dollar.

Nilai klub MLS 2017 | OPER.WEB.ID
Nilai klub MLS 2017 | PHOTO: Statista / Prntscreen

Pada 2007, lima pemain menyebrang dari Toronto ke Montreal, dan sebaliknya. Christian Nunez, dan Adam Braz ke Montreal dari Toronto di Januari. Sementara Nunez, Jon Paul Piques, dan Braz menyebrang ke Toronto. Setelah itu tak ada lagi yang pergi ke Toronto dari Impact.

Sebaliknya Impact kedatangan tiga pemain dari Toronto dalam waktu tiga tahun terakhir. Semua dimulai Issey Morgan Nakajima-Farran di 2014, lalu disusul oleh Dominic Oduro setahun kemudian. Oduro bahkan masih ada di Montreal Impact hingga saat ini.

Nama terakhir yang pergi ke Impact dari Toronto adalah Daniel Lovitz. Bek lulus Elon University itu didatangkan secara cuma-cuma oleh Toronto. Kini Iapun menjadi pemain inti Montreal.

Pertemuan kompetitif pertama: 27 Mei 2008 - Montreal 0-1 Toronto
Pertemuan pertama di MLS: 7 April 2012 - Montreal 0-0 Toronto
Pertemuan pertama di Play-off: 29 Oktober 2015 - Montreal 3-0 Toronto
Pencetak gol terbanyak Toronto: Jozy Altidore - 9 Gol (per 14 Oktober 2017)
Pencetak gol terbanyak Montreal: Ignacio Piatti - 8 Gol (per 14 Oktober 2017)

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.